Latihan Ibadah melalui Riyadhah

Kayaknya saya dulu pernah nulis tentang ini di blog saya yang dulu (yg saya sendiri lupa namanya), nah sekarang saya mau berbagi ulang tentang si riyadhah ini, dan kaitannya dengan hidup kita sehari-hari.

Sebelumnya saya mau jelasin dulu apa arti riyadhah yang saya tahu, Riyadhah atau riyadhoh ini diambil dari bahasa arab, ar-riyadhu yang artinya latihan atau melatih diri. untuk lebih jelasnya lagi kalian sebenarnya bisa baca disini, tapi kalau malas buka tautannya ya udah saya paparin lagi sedikit deh, maksud dari riyadhah ini sendiri adalah melatih diri kita sebagai muslim, untuk istiqamah dalam menjalankan ibadah harian, yang wajib maupun yang sunnah, dan pada perjalanannya nanti membuat kita jadi ahli ibadah, Inshaallah.

Nah terus apa manfaat riyadhah ini? 

Banyak, namanya juga latihan kalau terus dilakukan hasilnya jadi bagus kan? riyadhah juga. Buat saya pribadi latihan untuk istiqamah dalam beribadah ini bikin jadi merasa lebih dekat dengan Allah SWT, buat saya optimis sama tujuan-tujuan yang mau saya raih, dan lebih yakin sama doa-doa yang saya panjatkan.  Pernah nggak sih kita berpikir, kita nggak berdoa aja Allah udah ngasih apa yang kita mau, apalagi berdoa? apalagi doa yang kita panjatkan bukan sekadar doa yang diucapkan sekenanya melalui lisan, tapi juga melalui ibadah wajib, yang udah diatur sama Sang Maha Pencipta. Nah apalagi kalau ibadah wajibnya itu dilakukan tertib, tepat waktu, plus sunnah-sunnahnya, kebayang gak sih hasil apa yang akan kita raih nantinya.

Terus pertanyaan yang biasanya saya dapat setelahnya adalah, boleh nggak sih kita ngarep sama Allah? Kok kesannya ibadah yang kita lakukan jadi pamrih yah, nggak tulus hanya karena Allah gitu?!

Kalau saya sih mikirnya gini, well.. correct me if I’m wrong yah; ya nggak apa ngarep wong ngarepnya kan ke Allah, Tuhan kita sendiri. Kecuali saya ngarepnya ke sesama makhluk ciptaan-Nya, itu yang gak boleh kan. Sekali lagi, itu pendapat saya pribadi loh, kalo kalian punya pendapat lain ya monggo.

Saya pertama kali tau tentang latihan ibadah dengan riyadhah ini sekitar tahun 2011, saat itu saya sedang punya hajat, nggak sengaja saya baca artikel dari tulisan Uzt. Yusuf Mansur  tentang riyadhah. Singkat cerita saya lakuin riyadhah ini, terus hajat saya terkabul, cuma dalam waktu tujuh hari, doa saya diijabah sama Allah, tapi abis itu namanya iman masih cetek, ibadah saya kendor lagi. Seperti halnya hidup nggak ada yang linier, ibadah juga gitu, pasti ada ups and downnya. Saya pernah baca di suatu artikel (yang saya lupa baca dimana), di artikel itu dijelaskan kalau kita sedang malas-malasnya berdoa, sedang malas-malasnya beribadah justru pada saat itulah kita sebenarnya sedang benar-benar membutuhkannya, justru pada saat itulah kita benar-benar sedang diingatkan untuk berdoa.

Terus bentuk latihan ibadah seperti apa yang dikatakan riyadhah itu?

Sebenarnya sih dimulai dari yang gampang aja; jaga solat 5 waktu diawal waktu plus rawatibnya, solat sunnah tahajud, hajat, witir, taubat, jangan lupa baca quran dan maknanya tiap hari, infaq/sedekah, banyak-banyak zikir sama salawat. Lengkapnya seperti yang saya kutip dari laman www.wisatahati.com ini.

 

Kalau saya pribadi saya lakukan pelan-pelan, semampu saya dulu, semisal:

  • Solat tahajud; kalau sanggupnya baru 2 rakaat atau 4, yaudah jalanin aja dulu, nanti lama-lama bisa 8 bahkan 12 rakaat, karena kadang saya bangun tengah malamnya suka beda-beda, walau sudah pasang alarm, ya namanya juga proses kan yah nggak langsung tertib (pembelaan sih ini, hehe)
  • Solat Witir; kadang saya lakukan setelah tahajud atau sebelum tidur.
  • Menjaga solat 5 waktu diawal; saya pasang aplikasi pengingat solat di telepon genggam (saya pakai Muslim Pro). Karena solat itu pilar paling penting dalam Islam dan yang paling utamanya di latihan ini, makanya sebisa mungkin dijaga tepat waktu. Sekali lagi, namanya belajar pasti nggak langsung dapet nilai 100,  apabila saya merasa hari ini saya telat zuhur, maka ashar jangan sampai telat, begitu juga dengan maghrib dan isha.
  • Solat dhuha; sama halnya dengan solat tahajud, kalau sanggupnya baru bisa 2 atau 4 ya nggak apa-apa, usahakan along the way bisa sampe 8, 10, atau 12 rakaat.
  • Baca Al-Quran; Pagi biasanya saya baca QS. Ar-Rahman, sore saya baca QS. Al-Waqiah, Magrib baca Yasin, dan sebelum tidur baca Al-Mulk, nggak jarang juga saya baca surat Yasin barengan sama Al-Mulk, intinya satu hari ke empat surat itu dibaca.
  • Satu tambahan surat lagi yang saya baca setiap hari Jum’at, QS. Al-Kahfi, surat ini lumayan panjang, makanya saya biasa cicil dari hari Kamis malamnya, kalaupun nggak sempat baca seluruh surat, minimal 10 ayat pertama.

Biasanya saya nge-track kelancaran ibadah saya melalui jurnal dan kalender riyadhah. Zaman saya sekolah dasar, sekitar tahun 90an, itu sekitar 5 atau 10 tahun yang lalu lah kira-kira :p kalau bulan Ramadan kan suka di kasih buku catatan bulan puasa sama guru agama, isinya catatan-catatan ibadah yang kita lakukan selama Ramadan, kalender riyadhah juga kurang lebih mirip gitu. Hal itu saya buat sebagai pengingat aja atau semacam report lah buat saya pribadi, ibadah-ibadah mana saja yang masih kurang yang perlu saya perbaiki, atau berapa kali dalam seminggu itu mungkin ada ibadah yang missed.  Contoh kalendarnya seperti gambar berikut ini. Btw, kalau kalian malas buat, buat aja semudah mungkin, terus kalau kalian masih males buat juga, just drop me a message, i’ll be happy to share and send it to you 🙂

Screen Shot 2016-10-13 at 12.50.17 PM.png

Saya bikinnya bertahap, 14 hari pertama, dan 14 hari ke dua sampai kemudian nanti Inshaallah bisa 40 hari. Alasan khususnya nggak ada sih, biar bertahap aja. Kalender ini terus dipakai sampai kita nggak perlu lagi mencatat apa saja ibadah kita, sampai tau-tau hal tersebut (ibadah yang tertib) jadi kebiasaan seumur hidup.

Saya sendiri melakukan riyadhah ini bukan tanpa sebab, semakin saya bertambah usia (semakin tua maksudnya dengan kata lain), semakin saya sadar kalau yang butuh Allah SWT tuh saya, bukan sebaliknya. Hidup saya kalau boleh curhat sedikit akhir-akhir ini sedang tidak dalam kondisi yang baik, seringnya saya galauin dunia kadang sampai lupa sama yang punya dunia, saya merasa punya semacam kecemasan terhadap hidup saya, kekhawatiran terhadap masa depan saya memicu adanya semacam anxiety (nanti saya cerita kapan-kapan tentang anxiety saya ini). Saya, harus mengobati diri saya sendiri pikir saya dalam hati. Sebelum saya memerlukan bantuan profesional saya pikir saya minta bantuan dulu sama yang nyiptain saya, yaitu Allah SWT, dan riyadhah ini salah satu cara buat saya dapatkan ketenangan, sambil memohon supaya perlahan Allah beri saya jalan keluar.

Seperti yang sudah saya bilang diatas bahwa hidup itu tidak ada yang linier, ada naik turunnya, begitu juga dengan ibadah, dalam perjalanannya saya masih suka melakukan dosa secara sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar. Namun, dengan ber-riyadhah ini saya jadi belajar mengontrol diri, belajar untuk tidak cemas sama hidup saya,  dan belajar membina hubungan yang baik dengan Sang Khalik, dan termasuk terus berprasangka baik terhadap semua ketetapan-Nya, dan terus berbuat baik.

So, selamat beriyadhah, semoga saya dan kita semua mendapatkan manfaatnya, mengutip tagar populer di Instagram, #jangankasihkendor  termasuk buat urusan ibadah 😉

Aamiin 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Latihan Ibadah melalui Riyadhah

  1. Nuryati Widyawati says:

    Semangat terus amy, istiqomah ya…up & down pasti ada, tanamkan terus bahwa kita lah yang butuh Allah, bukan sebaliknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s